Tampilkan postingan dengan label sinopsis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinopsis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Oktober 2013

Sinopsis Novel - You Are My Sunshine: Matahari dari Tokyo




Judul novel      : You are My Sunshine: Matahari dari Tokyo

Penulis            : Clara Canceriana
Penerbit          : Gagas Media
Tahun              : 2013
Tebal isi           : 16 Bab, 328 halaman



Novel remaja berjudul You are My Sunshine: Matahari dari Tokyo karya Clara Canceriana bercerita tentang kehidupan asmara seorang dosen honorer di Universitas Bintara. Dosen honorer yang mengajar di jurusan sastra Jepang ini bernama Kristal. Ibunya selalu mendesak Kristal untuk segera menikah. Sahabatnya, Kinan, yang juga seorang dosen honorer, berusaha membantu Kristal dengan mengadakan goukon atau perjodohan dengan seorang temannya di Jepang, Ryouta. Ryouta, yang bekerja sebagai karyawan paruh waktu di sebuah perusahaan cleaning service, juga mengalami hal yang serupa dengan Kristal. Awalnya, Ryouta merasa bahagia ketika akan meninggalkan Tokyo. Ia berharap akan menemui sosok wanita yang ia cari. Namun, semuanya berubah pada pertemuan pertama mereka.
Sejak pertama kali bertemu di sebuah mal, Kristal tidak menyukai Ryouta. Penampilan Ryouta lah yang membuatnya tidak suka. Rasa ketidaksukaan Kristal terhadap Ryouta semakin menjadi-jadi, ketika Kinan meminta Kristal untuk mengizinkan Ryouta menginap di kontrakannya. Hari-hari Ryouta sungguh membosankan. Hampir setiap hari, Kristal marah kepada Kinpatsu, julukan yang Kristal berikan kepada Ryouta yang berambut pirang. Sebelumnya, tidak ada yang masyarakat yang mengetahui perihal menginapnya Ryouta di kontrakan Kristal. Sampai suatu pertengkaran yang terjadi antara Ryouta dan Bruno, pacar baru Kristal yang juga bosnya di DT Corp, perusahaan penerjemahan terkenal tempat ia bekerja. Masyarakat pun mengusir Kristal dari kontrakannya.
Pada hari pernikahan Kinan, Ryouta memutuskan untuk kembali ke Tokyo. Awalnya, Kristal sangat senang atas rencana itu. Namun, perasaannya berubah ketika Ryouta pulang. Ia merasa hidupnya kembali kelabu saat Ryouta pulang.

Novel ini memiliki 16 bab yang tidak disertai judul bab. Bahasa yang ringan dan jenaka membuat suasana cerita semakin hidup. Novel ini cocok untuk kalangan remaja hingga dewasa. Cerita ini memberikan pelajaran hidup untuk tidak membohongi perasaan sendiri, tidak menilai seseorang dari penampilannya, serta memikirkan segala tindakan sebelum melakukannya. Sayangnya, bentuk novel ini relatif kecil dan tidak disertai ilustrasi. Semua hanya berupa kata dan kalimat.

Kamis, 10 Januari 2013

Sinopsis Negeri 5 Menara

Seorang  anak Minang, Alif, melanjutkan pendidikannya di sebuah pondok di Jawa Timur, Pondok Madani. Awalnya, Alif menolak perintah  Amaknya yang bersikeras tidak menyetujui keinginan Alif bersekolah di sekolah umum. Namun, semua berubah setelah ia mendapat surat dari salah satu pamannya, Pak Etek Gindo tentang teman-temannya yang berasal dari Pondok Madani. Akhirnya, ia mau masuk pondok  yang ada di Jawa Timur itu.  

Setelah lulus dari tes yang sulit, tibalah hari pertama Alif belajar. Di hari pertamanya di pondok, Alif telah mendapatkan suatu kalimat dari Ustad Salman yang berhasil menyihir diri dan teman-temannya. Kalimat itu berbunyi Man jadda wajada; Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Dari kelas itu pula,  Alif mendapat 5 orang sahabat dari berbagai daerah  yaitu Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Madura, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Mereka disebut juga Sahibul Menara, karena mereka biasa menunggu Maghrib di bawah menara Masjid Jami’ sambil memandang awan.

Setelah 4 tahun di Pondok Madani, para anggota Sahibul Menara harus berpisah. Tentu sangat berat bagi mereka menerimanya. Tetapi hidup harus tetap berjalan. 11 tahun kemudian, Alif, Atang, dan Raja bertemu kembali di Trafalgar Square, salah satu tempat di Inggris yang mereka ketahui dari buku Reading Kelas 3 pada saat di Pondok  Madani. Di sana, mereka bernostalgia dengan ditemani kopi panas pengganti seember kopi di Pondok Madani dulu. Alif menyadari bahwa  segala impian para Sahibul Menara, yang mereka pikir hanya khayalan, menjadi nyata. Hal ini membuat Alif semakin yakin akan suatu kalimat magis yang mengubah hidupnya, Man jadda wajada.