Tampilkan postingan dengan label negeri 5 menara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label negeri 5 menara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Januari 2013

Keinginan Membawa Kesuksesan Part I

Sore hari yang mendung tepat pada hari Selasa, 22 Januari 2013, di sebuah kedai kopi terkenal, Starbucks Coffee, di sebuah mal dibilangan Bintaro Raya. Ya, hari itu merupakan sore yang sangat berkesan bagi kelompok kami yang terdiri dari Athaya, Nadira Anamika, Checa, dan Fariz.
Karena, dengan bantuan Tante Citra, yang tak lain adalah ibunda dari Fariz, kami dapat mewawancarai seorang penulis fenomenal yang berhasil menginspirasi banyak orang, termasuk kami. Beliau adalah Om A. Fuadi. Kebetulan sekali, Om  A. Fuadi ini adalah teman kuliah Tante Citra.
Penulis yang juga seorang seniman ini, mulai tertarik untuk menulis ketika duduk di bangku SD dan SMP. Kala itu, beliau melihat Amak, panggilan ibu di Sumatera Barat, menulis buku harian. Menurut beliau, Amaknya menulis apa saja, dari peristiwa yang terjadi sehari-hari, resep masakan, hingga hutang piutang. Kegiatan menulis diawali dengan menulis buku harian ketika SD dan SMP dan mengikuti kelompok majalah kampus ketika SMA dan kuliah.
Om Fuadi mengakui bahwa keputusannya menjadi penulis murni dari lubuk  hatinya yang terdalam. Tidak ada satupun dorongan terlebih lagi tentangan dari keluarganya maupun kerabat-kerabatnya. Beliau mengatakan bahwa ketika menulis, ia merasa senang. Dan menurutnya, dengan menulis kita dapat melampiaskan perasaan yang ada di dalam hati.

Nah, temen-temen, mau tau lanjutan dari kisah gw ini? Tunggu post selanjutnya yaa!!

Kamis, 10 Januari 2013

Sinopsis Negeri 5 Menara

Seorang  anak Minang, Alif, melanjutkan pendidikannya di sebuah pondok di Jawa Timur, Pondok Madani. Awalnya, Alif menolak perintah  Amaknya yang bersikeras tidak menyetujui keinginan Alif bersekolah di sekolah umum. Namun, semua berubah setelah ia mendapat surat dari salah satu pamannya, Pak Etek Gindo tentang teman-temannya yang berasal dari Pondok Madani. Akhirnya, ia mau masuk pondok  yang ada di Jawa Timur itu.  

Setelah lulus dari tes yang sulit, tibalah hari pertama Alif belajar. Di hari pertamanya di pondok, Alif telah mendapatkan suatu kalimat dari Ustad Salman yang berhasil menyihir diri dan teman-temannya. Kalimat itu berbunyi Man jadda wajada; Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Dari kelas itu pula,  Alif mendapat 5 orang sahabat dari berbagai daerah  yaitu Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Madura, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Mereka disebut juga Sahibul Menara, karena mereka biasa menunggu Maghrib di bawah menara Masjid Jami’ sambil memandang awan.

Setelah 4 tahun di Pondok Madani, para anggota Sahibul Menara harus berpisah. Tentu sangat berat bagi mereka menerimanya. Tetapi hidup harus tetap berjalan. 11 tahun kemudian, Alif, Atang, dan Raja bertemu kembali di Trafalgar Square, salah satu tempat di Inggris yang mereka ketahui dari buku Reading Kelas 3 pada saat di Pondok  Madani. Di sana, mereka bernostalgia dengan ditemani kopi panas pengganti seember kopi di Pondok Madani dulu. Alif menyadari bahwa  segala impian para Sahibul Menara, yang mereka pikir hanya khayalan, menjadi nyata. Hal ini membuat Alif semakin yakin akan suatu kalimat magis yang mengubah hidupnya, Man jadda wajada.